IndoArtNow

SPECULATIVE ENTERTAINMENT NO 1

Senin, 27 Maret 2017

SPECULATIVE ENTERTAINMENT NO. 1
(Menjadi Setara Dalam Pasar?)

ARHAM RAHMAN

PERHELATAN ARTJOG 9 (atau Mandiri ArtJog) di Jogja National Museum pada 27 Mei-27 Juni 2016 adalah sebuah “perayaan” yang panas; diiringi kontroversi, di samping keberhasilannya menyuguhkan banyak karya yang akrobatik. Alih-alih membahas kontroversi itu lebih lanjut, saya justru lebih tertarik menilik salah satu karya yang ada di dalam Mandiri ArtJog.

Sebagaimana galibnya dalam sebuah pameran besar yang melibatkan banyak seniman, setiap karya—kendati tetap bisa dilihat secara otonom—diikat oleh kerangka kuratorial yang sama. “Universal Influence” sebagai tajuk yang diangkat oleh kurator pameran, dimaksudkan untuk menggambarkan sebuah “mimbar” bagi seniman-seniman yang mempunyai pengaruh dalam skena seni rupa Indonesia. Speculative Entertainment No. 1-nya Uji “Hahan” Handoko menempati salah satu ruas di atas mimbar imajiner itu.

Fungsi utama pasar tentu tidak lebih dari jual-beli komoditas. Demikian pula pasar seni yang di dalamnya ada pertukaran dan konversi nilai. Praktik jual-beli ataupun investasi karya seni toh bukan sesuatu yang terlarang. Namun, memeriksa ulang bentuk interaksi dalam pasar seni tampaknya menjadi sesuatu yang juga diperlukan. Saya menangkap, hal itulah yang berupaya ditonjolkan Hahan lewat Speculative Entertainment No. 1.

PASAR YANG INTERAKTIF
Saya menghadiri malam pembukaan ArtJog 9 sehingga cukup beruntung bisa melihat beberapa karya performatif. Speculative Entertaintement No. 1 adalah salah satunya dan cukup menyita perhatian pengunjung. Karya itu menempati salah satu rungan pada bagian paling Barat di lantai pertama. Ada usaha untuk menghadirkan suasana pasar yang interaktif di dalam ruangan itu.

Mula-mula, tiga layar monitor dipajang di samping pintu masuk. Monitor pertama atau sisi paling kiri menampilkan cara untuk mengikuti dan terlibat dalam pertunjukan, harga tiap potongan karya, dan kemungkinan bentuk potongan yang bisa didapatkan pembeli. Kemungkinan bentuk potongan tidak melulu berbentuk bujur sangkar atau kotak, tetapi bisa berbentuk L atau persegi panjang. Monitor kedua atau bagian tengah, menampilkan preview potongan karya dari 1 sampai 16 lot. Sedang monitor ketiga atau sisi paling kanan menampilkan jadwal pertunjukan, lot yang sudah terjual, dan lot yang dititipkan untuk dijual kembali.

Ukuran total lukisan bergaya pop-art Hahan adalah 260 x 750 sentimeter yang bisa dipotong-potong dengan berbagai variasi ukuran. Satu potongan atau satu lot karya berupa bujur sangkar dengan area seratus sentimeter persegi adalah potongan minimal yang bisa dibeli. Satu orang pembeli—dalam satu waktu penjualan—paling maksimal hanya boleh membeli enambelas lot potongan karya dengan ukuran seribu enamratus sentimeter persegi. Jadi ada seribu enamratus sembilanbelas lot kemungkinan potongan karya yang bisa diakses oleh para calon pembeli. Satu lot karya dihargai seratus ribu rupiah. Kelipatan harganya terus bertambah jika membeli dua lot atau lebih. Untuk enambelas lot, dijual dengan harga delapan juta empatratusribu rupiah.

Ruangan yang beralaskan karpet merah dan dihiasi lampu kristal yang menggantung di langit-langit memberi kesan mewah dan elegan. Sekelompok orang yang menjadi performer mengajak pengunjung untuk terlibat, bermain peran. Penonton dan calon pembeli yang mengantre duduk di lantai yang beralaskan karpet merah. Beberapa kursi di bagian belakang—dinamai kursi kolektor—memang sengaja disiapkan, tetapi hanya diperuntukkan bagi para pembeli yang telah selesai menuntaskan pembayaran karya.

Pada sudut kiri ruangan, beberapa orang bekerja di balik meja panjang untuk menyediakan beberapa kebutuhan; sertifikat karya, pengemasan (packing) karya, administrasi jual-beli, dan penandatanganan karya. Dan di depan lukisan, tiga orang laki-laki yang tampak terlatih ditugaskan sebagai tim pemotong lukisan. Mereka selalu berbicara dengan calon pembeli untuk memastikan bagian mana yang dipilih oleh pembeli itu. Semakin banyak pembeli, semakin lebar bolongan lukisan. Perlahan-lahan, saat bolongannya sudah semakin membesar, samar-samar tampak sebuah kredo yang tersembunyi di balik kain kanvas; “the true art is the selling of it”.

Sementara itu, pemandu penjualan karya tak henti-hentinya mengajak pengunjung untuk terlibat—membeli lukisan. Pemandu inilah yang membuat suasana dalam ruangan tidak terasa membosankan. Awalnya saya sempat berpikir akan melihat sekumpulan orang berpakaian rapi dan berdasi yang memandu proses penjualan. Namun rupanya tidak. Para pemandu ini lebih “liar”, memekik “SOLD!” setiap kali karya terbeli dengan lebih lepas, dan mengemas suasana secara lebih populer. Sesekali Hahan terlihat ikut terlibat membantu para pemandu itu.

Hahan gelisah pada sistem pengoleksian karya seni yang sangat terbatas dan hanya bisa dilakukan oleh orang tertentu saja. Lewat karya Speculative Entertainment No. 1, setiap orang dimungkinkan untuk menjadi kolektor. Seperti yang diharapkan Hahan, setiap pengunjung memiliki kesempatan, harapan, dan spekulasi yang sama. Semakin cepat mengambil nomor undian, semakin besar potensi memilih potongan gambar yang dianggap favorit. Tidak peduli ia kolektor/kolekdol “sungguhan”, pelajar sekolah atau mahasiswa, peluangnya tetap sama.

Namun lebih dari itu, saya merasa yang hendak dibagi bukan sekadar peluang akses saja, melainkan juga peluang untuk merasakan tegangan yang acapkali muncul dalam sebuah kompetisi pasar. Itu tampak saat orang-orang mengantre untuk menentukan lot yang hendak dipilih. Setiap lot memang sudah diprakirakan akan menjangkau potongan atau bagian gambar tertentu yang bisa dilihat melalui proyeksi grid pada karya. Hanya saja, pembelian yang lebih dari satu lot akan memengaruhi potongan gambar pada lot yang lainnya.

Speculative Entertainment No. 1 mengadopsi suasana dan peralatan-peralatan yang biasanya ditemukan atau digunakan dalam balai lelang. Kendati begitu, tidak ada pelelangan karya dalam performance Hahan. Yang ada penjualan dan pembelian langsung dengan mengadopsi gaya balai lelang sebagai visual performatifnya. Untuk mendapatkan karya, orang hanya perlu meluangkan waktu dan mengantre. Proses “jual-beli” yang ada di dalamnya menghubungkan seniman sebagai produsen dengan pembeli (konsumen) secara langsung. Hahan tidak bertindak sebagai produsen yang pasif di hadapan konsumennya. Dia turut terlibat dalam permainan; dari berinteraksi langsung dengan calon pembeli hingga sekadar foto bareng.
Di dalam Mandiri ArtJog, penjualan karya seniman mau-tidak mau dimediasi oleh penyelenggara. Pada kasus Speculative Entertainment No. 1, kendati ada interaksi langsung antara seniman dengan konsumennya, proses pembayaran dan legalitas sertifikat tatap membutuhkan legitimasi penyelenggara ArtJog.

VARIASI DI TENGAH PASAR YANG “BEKU”
Setiap karya yang disuguhkan (dan diperjual-belikan) pada ArtJog 9 tentu punya kekuatan atau kelebihannya sendiri. Dalam kasus Speculative Entertainment No. 1, Hahan bisa dinilai telah berhasil memberi variasi di tengah-tengah suasana pasar yang monoton. Bila satu karya dari seorang seniman biasanya dimonopoli oleh satu orang (kolektor), maka lukisan dalam Speculative Entertainment No. 1 tidak. Para pembeli pun tidak hanya berpeluang berperan sebagai kolektor, tetapi juga kolekdol. Mereka bisa menjual kembali karya yang sudah dibeli, baik melalui tim Speculative Entertainment No. 1 maupun tidak.

Lebih jauh, karya tersebut memotivasi aksi-aksi kreatif baru di luar “kendali” tim. Itu bisa dilihat dari modus-modus yang digunakan beberapa “kolekdol”. Proses penjualan kembali yang melalui meja tim bisa dipantau lewat layar monitor ketiga yang ada di luar ruangan. Hingga penyelenggaraan ArtJog 9 selesai, ada tiga potongan karya dengan ukuran yang berbeda dijual melalui perantara tim, satu di antaranya laku terjual dengan harga yang lebih tinggi. Sedang yang lainnya, menjual dengan tanpa perantara. Saya mencatat beberapa penjualan kembali yang dilakukan tanpa melalui perantara, yakni yang dilakukan oleh Mella Jaarsma, Tom Tandio, Hendra Hehe, dan Andri William atau Abud.

Kegiatan-kegiatan “pinggiran” tersebut justru menjadi menarik karena memunculkan aksi performatif yang lain, terutama dalam kasus penjualan balik dan penambahan nilai karya yang dilakukan oleh Abud. Dia melakukan pembelian karya juga secara performatif, yakni dengan memesan karya melalui layanan aplikasi Gojek. Tukang Gojek yang datang ke ruang pertunjukan memilih sendiri bagian yang dia sukai untuk diantarkan kepada Abud. Pengalaman dan kesan tukang Gojek tersebut dari membeli hingga mengantarkan pesanan karya dia ceritakan ulang dan di-video-kan oleh Abud. Potongan karya Hahan beserta dokumentasi video tersebut dikemas menjadi karya baru dan dijual di lapak Ace Mart. Penambahan nilai karya juga dilakukan Tom Tandio. Dia tidak memilih sendiri bagian karya yang diinginkan, tetapi meminta seorang kurator untuk membantunya membuat pilihan. Dengan dalih itu, nilai potongan karya tersebut bisa dijual dengan harga yang lebih tinggi.

Bagian paling penting dari Speculative Entertainment No. 1 ada pada performativitasnya. Detail-detail lain seperti jumlah lot yang terjual menunjukkan tingkat partisipasi yang mencengangkan dalam sebuah aktivitas pasar yang dikemas dengan gaya populer. Dalam catatan penjualannya, ada 354 orang yang terlibat sebagai pembeli dengan total keuntungan penjualan Rp. 234.250.000. Karya tersebut memang tidak bisa disejajarkan dengan “Ace Mart”, proyek yang digagas Hahan bersama Ace House Collective yang lebih condong memparodikan pasar. Speculative Entertainment No. 1 bukanlah parodi atas pasar, melainkan lebih dekat dengan kesan menciptakan “strategi penjualan karya” yang baru.

Memang ada usaha untuk menciptakan kesetaraan dan membuka peluang yang sama bagi setiap orang dalam mengoleksi karya seni. Namun, disparitas kelasnya masih sangat terasa; antara yang hanya bisa mengakses satu lot dengan yang lebih. Orang yang punya kekuatan finansial tentu bisa mengakses jumlah lot yang juga lebih banyak. Speculative Entertainment No. 1 masih sangat potensial untuk dikembangkan dalam sebuah proyek khusus. Lagipula, melihat dari judulnya, karya tersebut tampaknya akan dibuat secara berseri. Kemungkinan eksplorasinya pun masih sangat banyak.

Arham Rahman, peneliti di Study on Art Practices Yogyakarta