IndoArtNow

DARI EDITOR

DARI EDITOR
Senin, 27 Maret 2017

DI ART CENTRAL HONG KONG, 21-25 Maret 2017, tak ada satu pun galeri Indonesia yang buka lapak. Saya tak tahu apa perkaranya. Tapi saya tahu pasti ada karya-karya dua-tiga perupa Indonesia yang diperdagangkan di sana. Misalnya, lukisan abstrak Dedy Sufriadi dan lukisan naïf Indra Dodi yang dijajakan oleh Artemis Art Malaysia.

Selain kedua perupa dari Yogyakarta itu—ada Uji “Hahan” Handoko yang memanggung-lelangkan karyanya SPECULATIVE ENTERTAINMENT NO. 1 sebagai salah satu acara dalam PROGRAMME yang mendaku sebagai perayaan keberagaman dan semangat medan seni rupa kontemporer Asia—antara lain melalui “cutting-edge performance that appeals to both the experienced collector and the discerning art enthusiast.”

Saya masih menunggu jawaban Hahan atas pertanyaan saya mengenai “bagaimana cerita”-nya SPECULATIVE ENTERTAINMENT NO. 1 dapat dipanggung-lelangkan kembali di Art Central Hong Kong 2017. Perlu diingat, karya tersebut pernah dipanggung-lelangkan di Artjog 9-2016. Arham Rahman membantu kita mengingatnya dengan kritis lewat tulisannya “SPECULATIVE ENTERTAINMENT NO. 1: Menjadi Setara dalam Pasar?”

Sementara itu, hanya ada dua galeri Indonesia—yaitu Roh Projects dan Nadi Gallery—yang berniaga karya seni rupawan Indonesia di Art Basel Hong Kong, 23-25 Maret 2017. “Hanya” itu bisa jadi membangkitkan hasrat pengamat dan penghayat seni rupa untuk mengharu-birukannya dengan situasi dan kondisi pasar seni rupa di tanah air yang mendura hari-hari ini.

Tapi saya lebih tertarik untuk memperlihatkan kenyataan eksistensial perupa Indonesia yang berpartisipasi di Art Hong Kong melalui mediasi galeri-galeri mancanegara. Contohnya, Erizal As yang memamerkan empat lembar lukisan mutakhirnya berpokok perupaan potret di lapak Gajah Gallery Singapura.
Keempat lukisan itu boleh dibilang merupakan rangkaian yang belum-sudah dari sepuluh lukisan potret Erizal dalam pameran tunggalnya, “Refiguring Portraiture”, di Gajah Gallery, 15 Desember 2016-2 Januari 2017. Saya menyurat upayakannya dalam “To Reveal What is Hidden”.

Jauh-jauh memandang ke peristiwa seni rupa di negeri Bruce Lee itu—Mikke Susanto mengembalikan pandangan kita pada kenyataan “di sini dan kini” tentang sosok dan pokok Aming Prayitno, seorang maestro seni lukis berida yang harum nama dan jasanya hampir-hampir luntur dari perkataan dan pikiran penghayat seni rupa di Indonesia, terutama di Yogyakarta—tempat di mana dia tinggal dan berkarya selama ini.

Dengan ketiga esai itulah FORUM ini bertolak untuk tak sekali terbit sudah itu tamat. Oleh karena itu, kami harap partisipasi bebas-aktif Anda, pembaca nan budiman, di sini. Sila melayangkan tulisan seni rupa Anda ke: [email protected]