AMING PRAYITNO: Dari Nirmana Hingga Logo KORPRI

Senin, 27 Maret 2017

AMING PRAYITNO:
Dari Nirmana Hingga Logo KORPRI
MIKKE SUSANTO

PERKENALAN SAYA diawali di kampus ISI Yogyakarta, awal dekade 90-an. Pertama kali saya diajar oleh Aming Prayitno pada mata kuliah Nirmana. Sebuah mata kuliah yang asing bagi mahasiswa baru seperti saya, namun memberi hasrat yang begitu rupa. Dalam perkuliahan tersebut Aming adalah seorang guru yang mahir dalam ilmu menggali dan membuat tekstur atau nilai raba sebuah permukaan benda. Persoalan ini mengejutkan saya karena sebelumnya saya tak menyadari bahwa tekstur adalah bagian penting dalam sebuah karya seni. Pelajaran ini membuat saya harus sering memperhatikan alam dan berbagai benda di sekitar saya. Aming seperti menorehkan catatan agar selalu peduli dan sensitif terhadap apapun.

Lain halnya Aming sebagai pengajar mata kuliah Seni Lukis. Dalam pelajaran ini saya mendapatkan sebentuk perilaku khas. Semula saya sadari bahwa kritik-kritik yang dilontarkan Aming lebih berkutat pada perkara teknik, komposisi dan bagaimana memperlakukan media yang dipakai. Pernah suatu kali pada saat pameran kelompok Prasidha 93 (nama Kelompok Angkatan 93), saya mendapat kritik darinya. Saat itu saya membuat lukisan dengan media campuran: cat minyak di kanvas dan kayu.

Setelah proses seleksi, Aming bersama Subroto SM sebagai penyeleksi karya. Aming menyarankan saya untuk memberi satu aksentuasi pada kayu yang saya pakai dalam lukisan tersebut. Kritik dan saran mereka membuat saya kala itu merasa mendapat arahan penting, yakni menyatukan media yang sangat berjauhan agar dapat menyatu. Pendek kata, meskipun saran mereka masih berkutat pada masalah teknik dan artistik (bukan pada makna), nyatanya sebagai mahasiswa, saat itu kepuasan atas sarannya juga cukup memberi kepercayaan diri.

Sosok Aming juga tak bisa dilepaskan dari sejarah perkembangan seni rupa Indonesia. Sejak tahun 1970-an eksistensi Aming dianggap setara dengan nama-nama lain seperti Edhi Soenarso, Fadjar Sidik, Widayat yang usianya jauh lebih tua. Bukti paling membanggakan adalah terpilihnya Aming sebagai salah satu pemenang di antara nama Widayat, Abas Alibasjah, A.D. Pirous, dan Irsam, pada Pameran Besar Seni Lukis Indonesia 1974 di Taman Ismail Marzuki Jakarta. Menariknya, pengumuman tersebut memicu perdebatan atau polemik penting yang melahirkan Peristiwa “Desember Hitam” dan Pameran Seni Rupa Baru Indonesia di tahun-tahun berikutnya.

Dari segi konsep ideologi, Aming dinilai oleh beberapa ahli sebagai salah satu perupa yang beraliran Lirical Abstraction. Aliran ini mulai berkembang di akhir dekade 1960-1970-an, di antara ramainya perdebatan dan polemik Manifesto Kebudayaan (Universalisme) melawan Manifesto Kerakyatan (Realisme Sosial). Lirical Abstraction atau singkatnya disebut Lirisisme merupakan karya-karya yang memiliki kualitas dan proses kreatif yang bersifat personal, melahirkan ungkapan-ungkapan yang menitikberatkan pada perasaan dan emosi (liris). Dalam beberapa ungkapan visual terlihat intuitif, imajinatif, dekoratif dan non-formal improvisatoris, serta memiliki dimensi abstrak yang cukup kuat. Sejumlah 16 karya lukisnya bertahun 1990-2016 dapat dilihat dalam pameran The Master #1 yang digelar oleh Kiniko Art Management, 18 Maret-1 April 2017, di Kompleks Sarang Building II, Bantul, Yogyakarta. Dari karya-karya lukisnya itu terlihat pengaruh Surealisme Ekspresif yang melahirkan simbol-simbol dan bentuk-bentuk liar dan aneh. Aliran ini tergolong dalam tendensi seperti yang terlihat pada karya Andre Masson dan Joan Miro.

Aliran ini menujuk pada sejarah yang berkembang di Prancis pada tahun 1940-an dan 1950-an yang banyak mengeksplorasi spontanitas dan ekspresif dibanding dengan abstrak geometrikal. Di Indonesia, selain Aming nama-nama lain seperti Ahmad Sadali dan Fadjar Sidik yang paling terkenal. Meskipun tidak cukup besar pengaruhnya, teknik dan aliran yang dianut Aming menyumbang inspirasi bagi sebagian muridnya di masa kini: Nasirun, Jumaldi Alfi, Suraji dan beberapa yang lain lagi.

Kisah tentang Aming berikutnya yang penting untuk diungkap adalah sebagai pembuat desain logo Korps Pegawai Negeri Indonesia (KORPRI). Korps ini dilahirkan semasa Presiden Suharto untuk mewadahi semua aparatus yang bekerja untuk melayani rakyat. Mereka sering disebut sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS), pegawai yang bekerja di seluruh kedinasan atau kementerian yang ada di negeri ini, termasuk presiden. Jumlahnya ratusan ribu, sehingga jika dipolitisir dapat digerakkan sebagai mesin besar yang memiliki suara signifikan dalam Pemilihan Umum.

Pada tahun 1973, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI melakukan lomba desain logo KORPRI. Salah satu anggota jurinya adalah Kusnadi (kritikus seni rupa). Ternyata dari lomba ini tidak menghasilkan logo yang menarik dan diinginkan. Sampai dua kali penyelenggaraan, tidak pula menemukan desain yang pas. Sampai pada suatu ketika Aming Prayitno ditemui oleh staf Departemen Dalam Negeri RI untuk dimintai membuat desain logo. Pada waktu itu Mendagri RI dijabat oleh Amir Mahmud yang juga menjabat sebagai Ketua KORPRI Pusat. Rupanya yang dimintai untuk mendesain tidak hanya Aming, tetapi juga perupa Mujitha, Suharto PR dan seniman lain dari Bandung dan Jakarta. Akhirnya desain Aming-lah yang terpilih. Aming mendapat sertifikat penghargaan dengan “No. Peng. 02/K.III/wan/73 tertanggal 6 Maret 1973”. Ia berhak atas uang sebesar 50 ribu rupiah yang dibebankan kepada KORPRI Pusat.

Konsep dalam logo KORPRI merupakan sekumpulan tanda yang disatukan dalam sebuah desain. Dalam logo tersebut tercantum beberapa simbol: 1) Pohon Hayat atau Kalpataru yang merupakan pohon pelindung dan penyeimbang alam. Dalam pohon tersebut terdapat 17 ranting, 8 cabang, dan 45 daun sebagai asosiasi hari Kemerdekaan RI. 2) Pohon tersebut menaungi sebuah siluet rumah yang memiliki 5 buah tiang yang diasosiasikan sebagai dasar negara Pancasila. 3) Di bawahnya terdapat sayap yang menyiratkan kebebasan. 4) Logo KORPRI tersebut berwarna emas (atau kuning) yang menyiratkan sebuah warna yang paling mulia dan tinggi.

Logo ini lalu di-“batik”-kan. Maksudnya bukan batik dalam arti sebenarnya, tetapi dibuat sebagai baju seragam batik printing. Pakaian batik printing ini dipakai sebagai pakaian wajib dalam melaksanakan tugas sehari-hari para PNS. Anehnya, setelah mendapatkan sertifikat dan uang jasa pembuatan logo, Aming Prayitno (yang juga PNS-Dosen di STSRI “ASRI” Yogyakarta) tidak lagi mendapat peran apapun. Bahkan sebagai desainer logo ia tak mendapatkan pemberitahuan sebelumnya maupun hak kekayaan intelektual atas desainnya. Pamor batik KORPRI yang semula begitu kuat, turut menghilang dengan munculnya Orde Reformasi. Pada beberapa tahun terakhir, logo Aming dipakai kembali dengan sentuhan baru pada seragam PNS. Tak dinyana, batik logo KORPRI telah menjadi batik kontemporer paling dikenal dan fenomenal dibanding motif batik lain yang sebelumnya hadir.

Kini Aming telah berusia lanjut. Meskipun usia telah menggerogoti tubuh, kita layak mengingat seorang tokoh penting seni rupa di Indonesia. Dengan segala kegigihannya, Aming hadir mengingatkan kita agar makin tahu tentang makna sebuah peninggalan dan eksistensi. Rasanya tepat sekali di bulan Maret ini (SK. KORPRI buatan Aming) kita dapat menikmati dan mengungkap kesejatian guru yang telah membesarkan banyak murid.

Mikke Susanto, staf pengajar ISI Yogyakarta